Rabu, 16 Juni 2010

Keledai Versus Kuda

Pada suatu hari, seorang pemuda membeli seekor kuda putih di pasar hewan. Secara fisik kuda itu mendekati sempurna baik dari warna bulu nan indah maupun dari kaki-kaki yang kuat.

Dengan sukacita pemuda itu menunggang kuda tersebut dengan bangga, ia yakin bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menandingi kecepatan kudanya itu.

Namun di tengah jalan, terdapat seorang laki-laki separuh baya menunggang keledai. Lelaki itu menantang pemuda dengan kuda untuk berlomba. Barangsiapa dapat mencapai desa yang ditentukan maka akan mendapatkan kuda atau keledai tunggangan dari lawannya.

Tentu saja pemuda itu dengan senang hati menerima tantangan tersebut. Dalam perkiraannya pasti kuda itu akan dapat mengalahkan dengan mudah keledai lelaki separuh baya itu.
Pertandingan dimulai, awalnya pemuda dengan kuda putih berlari meninggalkan keledai dan lalaki separuh baya jauh di belakang. Namun kondisi ini tidak berjalan lama, dengan pelan namun pasti keledai dapat menyusul kuda yang ditunggangi pemuda. Ternyata lelaki separuh baya memberikan wortel tepat di depan muka dari keledai tersebut sehingga keledai dengan cepat mengejar wortel itu. Keledai secara tidak sadar dapat berlari cepat karena mengejar wortel yang tidak pernah ia dapatkan.

Melihat hal tersebut, pemuda kemudian melakukan hal yang sama dengan lelaki separuh baya kepada keledainya. Diberikannya kuda tersebut iming-iming wortel, namun kuda tidak memberikan reaksi apa-apa dan tetap berlari dengan santai. Pemuda itu bingung dan dengan kesal dipukulnya pantat kuda dengan keras. Kuda kaget dengan pukulan itu dan kemudian berlari dengan kencang menyusul keledai yang ada di depannya.

Ternyata pemuda sadar jika kuda dipukul maka akan berlari dengan cepat. Oleh karenanya ia memukul kuda itu dengan keras, harapannya bahwa kuda akan berlari kencang hingga sampai tempat tujuan. Namun karena kerasnya memukul kuda, kuda marah dan menendang pemuda itu hingga terlontar jauh dan akhirnya pemuda itu kalah karena tidak bisa menyelesaikan perlombaan.

Insigt dari cerita ini :

1. Jangan menjadi Kuda
Terkadang kita secara tidak sadar berada dalam posisi Kuda ataupun Keledai. Seperti Kuda
yang jika tidak " dipukul " maka tidak mengerjakan suatu yang menjadi kewajiban kita. Atasan
selalu harus mengawasi, menegur maupun memberikan peringatan agar kinerja kita menjadi
lebih baik.
2. Jangan Menjadi Keledai
Sebaliknya seperti Keledai artinya dalam melakukan suatu kewajiban harus diiming-iming oleh
imbalan, rewards yang kita anggap sebagai suatu yang harus diraih namun jika tidak ada
reward atau imbalan maka kewajiban kita lakukan dengan sekehendak hati.
3. Jadilah Manusia
Jadi jika merasa kita sebagai manusia, lakukanlah segala kewajiban selayaknya manusia dan
bukan sebagai Kuda maupun Keledai. Lakukan dengan ikhlas tanpa pamrih dan kita lihat apa
yang akan terjadi selanjutnya

Semoga Bermanfaat ......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar