Rabu, 14 Juli 2010

Gelas dan Kopi

Jayapura, 14 Juli 2010

Suatu hari beberapa alumni Universitas California Barkeley yang sudah bekerja & mapan dalam karier, mendatangi profesor kampus mereka yang kini sudah lanjut usia.
Mereka membicarakan banyak hal menyangkut pekerjaan maupun kehidupan mereka.
Sang Profesor lalu ke dapur dan kembali membawa Se teko kopi panas.
Di sebuah nampan ia membawa bermacam-macam cangkir. Ada yang terbuat dari kaca, kristal,melamin,beling dan plastik.
Beberapa cangkir nampak indah dan mahal, tetapi ada juga yang bentuknya biasa-biasa saja dan terbuat dari bahan yang murah.
"Silahkan masing-masing mengambil cangkir dan menuangkan kopinya sendiri",Sang Prof mempersilahkan tamu-tamunya.
Setelah masing-masing sudah memegang cangkir berisi kopi, Profesor berkata,"Perhatikanlah bahwa kalian semua memilih cangkir-cangkir yang bagus dan yang tertinggal kini hanya cangkir murah dan tidak begitu menarik.Memilih yang terbaik adalah hal yang normal. Tetapi sebenarnya justru di situlah persoalannya.Ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus, perasaan kalian menjadi terganggu. Kalian mulai melihat cangkir-cangkir yang dipegang oleh orang lain dan membandingkan dengan cangkir yang kalian pegang. Pikiran kalian terfokus kepada cangkir, padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya , melainkan kopinya."

Sesungguhnya kopi itu adalah kehidupan kita, sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, uang dan posisi yang kita miliki. Jangan pernah membiarkan wadah dari kopi mempengaruhi kopi yang kita nikmati. Orang boleh saja menaruh kopi ke dalam gelas kristal yang sangat mahal dan indah, tetapi belum tentu mereka dapat merasakan nikmat dari kopi tersebut. Artinya, ada sebagian orang yang menurut penglihatan jasmani kita mereka begitu beruntung dan berbahagia, tetapi belum tentu mereka dapat menikmati indahnya karunia kehidupan yang diberikan oleh Tuhan.

Mari kita belajar menghargai dan mensyukuri hidup bagaimanapun cara Tuhan "mengemas"nya untuk masing-masing kita. Yang penting sikapi anugerah kehidupan dengan baik serta mengisi dengan hal-hal yang benar dan positif.

SEMOGA BERMANFAAT

Rabu, 16 Juni 2010

Menyerah Sebelum Berbuat

Di suatu kerajaan, Sang Raja hendak menikahkan puteri kesayangannya dengan pangeran yang ada di negeri tersebut. Namun karena sangat banyaknya pangeran yang melamar sang puteri, maka diadakan sayembara. Barang siapa yang bisa berenang di kolam yang penuh buaya, maka aka dinikahkan dengan sang puteri dan sekaligus menjadi Raja di kerajaan tersebut.

Meskipun banyak pangeran dengan kesaktian yang beraneka ragam namun melihat tantangan yang ada mereka berpikir ulang untuk berenang di kolam yang penuh buaya. Ditunggu sampai beberapa jam, tidak ada satu pun pangeran yang mencoba menyeberangi kolam tersebut.

Tiba-tiba terdapat kegaduhan, seorang pangeran nampak dengan susah payah berenang melintasi kolam dengan dikejar buaya yang sangat banyak. Dengan kemampuan yang dimiliki, pangeran itu berusa untuk mempertahankan hidupnya berenang secepat mungkin ke ujung kolam.

Akhirnya pangeran tersebut sampai di ujung kolam, dengan tubuh bersimbah darah akibat gigitan buaya. namun ia selamat sampai ujung kolam.

Dengan takjub, sang raja memeluk pangeran tersebut. Raja berkata " Selamat wahai pangeran yang pemberani, Engkau bisa menyeberangi kolam dengan selamat. Ilmu apakah yang engkau miliki untuk dapat memiliki keberanian dan sampai ke ujung kolam?"

Pangeran itu dengan terengah-engah berkata " Terima Kasih Raja Yang Mulia, tapi saya hendak bertanya satu hal?"

Raja menjawab" apakah yang akan engkau tanyakan ?"

Pangeran berkata" Siapa yang tadi mendorong saya sehingga saya tercebur ke Kolam?, sesungguhnya saya tidak memiliki ilmu apapun hanya ingin menyelamatkan diri karena ada seseorang yang menceburkan saya!!!"

Insight dari cerita ini :

1. Kadangkala kita ragu dengan kemampuan yang kita miliki sehingga memilih menyerah
sebelum melakukan tantangan yang menurut kita mustahil

Mengutip dari kata-kata Bapak Andre Wongso " Kegagalan sebagian besar diakibatkan
karena menyerah sebelum melakukannya"
Jadi cobalah terlebih dahulu suatu tantangan sebelum akhirnya menyerah karena kita tidak
akan tahu kemampuan kita sebelum menjalani terlebih dahulu.
2. Kemampuan akan menjadi optimal jika terdapat situasi yang memaksa kita untuk
mengeluarkan seluruh daya upaya agar bisa survive menghadapi masalah

Kita berada pada zona nyaman ( comfort zone ) yang menyebabkan diri kita tidak bisa
mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki karena selalu ada pilihan untuk lari dari
masalah yang dihadapi.

Semoga Bermanfaat ..............

Kura-kura Dan Kijang

Di Hutan yang lebat di pegunungan nan tinggi di suatu tempat, Sang Singa sebagai raja hutan sedang kelaparan sehingga akan mengejar setiap hewan yang ditemui untuk dimangsa. Seluruh hewan yang ada menjadi resah dan selalu siaga jika suatu waktu bertemu dengan Singa yang kelaparan. Burung-burung melatih kecepatan terbangnya agar tidak tertangkap oleh singa, demikian pula Kijang berlatih berlari secepat mungkin agar dapat meningkatkan kecepatan larinya. Sedangkan monyet berlatih berayun di antara pepohonan yang ada.

Di tengah kesibukan melatih kemampuan masing-masing, terlihat kura-kura kecil yang berjalan sangat lambat. Ia bingung bagaimana bisa ia berlatih seperti hewan lainnya. Akhirnya ia bertanya pada monyet yang ada di dekatnya," Hai monyet, bagaimana caranya aku dapat selamat dari serangan Singa yang ganas sedangkan jalanku sangat lambat?" Monyet pun berkata,"Cobalah berlatih seperti seperti Kijang sehingga nantinya larimu bisa cepat" Kura-kura pun menuruti perkataan dari monyet, ia mengikuti latihan dari Kijang untuk mempercepat jalannya. Kijang yang mengetahui adanya kura-kura sebagai teman latihannya selalu mengejek dan menganggap dirinya telah hebat karena tidak dapat dikalahkan oleh kura-kura. Kijang akhirnya berhenti berlatih karena menganggap sebelum Singa dapat menangkap dirinya tentu akan mengejar kura-kura yang lebih lambat dari dirinya.

Kura-kura terus berlatih, namun hasil yang didapat tidak maksimal sehingga lari kura-kura tetap lambat jauh dibawah lari Kijang. Kura-kura putus asa, ia menganggap apa yang dikerjakannya sia-sia. Di tengah keputusasaannya, tiba-tiba hutan menjadi mencekam, hewan berlarian seolah ada malaikat maut yang mengejarnya. Kura-kura tahu bahwa ajalnya sudah dekat karena Singa yang sedang lapar telah berjalan mendekatinya. Kura-kura berusaha berlari sekuat tenaga, namun apa daya dengan mudah Singa dapat menangkapnya.

Dengan reflek kura-kura memasukan tubuhnya dalam tempurungnya. Singa bingung karena tidak bisa menemukan tubuh kura-kura untuk disantap. Setelah puas mempermainkan tempurung kura-kura, Singa pergi meninggalkan kura-kura dan mengejar hewan lainnya.

Dari hewan-hewan yang berlarian, ternyata kijang tercecer di urutan paling belakang sehingga dengan sigap ditangkap oleh Singa. Sebenarnya kijang dapat berlari dengan kencang namun karena selama beberapa waktu tidak melakukan persiapan maka akhirnya dapat tertangkap oleh Singa dan dimangsa oleh Singa tersebut.

Penghuni hutan mengelu-elukan kura-kura yang berhasil lolos dari sergapan Singa tanpa harus berlari kencang seperti hewan lainnya. Dalam hati kura-kura bersyukur dibalik kelemahannya lambat dalam bergerak, namun memiliki kelebihan khusus yang tidak dimiliki hewan lainnya.

Insight dari cerita ini :

1. Setiap mahluk memiliki kelebihan dan kelemahan demikian juga dengan
manusia.

( Kijang dengan kelebihan kecepatan larinya namun kelemahan tidak memiliki alat pertahanan
diri seperti gigi, cakar atau pun bisa, kura-kura memiliki kelebihan dapat bersembunyi di balik
tempurung nya yang sangat keras namun memiliki kelemahan sangat lambat dalam bergerak)
Setiap manusia memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Terlalu banyak manusia
yang melihat hanya pada kelemahan diri sendiri dan melihat kelebihan dari orang lain
sehingga merasa dirinya lemah dibandingkan dengan orang lain.
2. Eksplorasi kembali kelebihan yang dimiliki untuk menutupi kelemahan yang
ada

( Kijang seharusnya terus berlatih berlari yang kencang agar tidak tertangkap oleh Singa )
3. Selalu melatih kelebihan yang dimiliki dan jangan membandingkan dengan
kemampuan orang
lain yang tidak setara
( kijang yang membandingkan kecepatan larinya dengan kura-kura )
4. Jangan berlatih dengan cara yang sama dengan orang lain manfaatkan
kelebihan masing-
masing.
( Kura-kura tidak akan dapat berlari seperti Kijang, sekeras apapun latihannya )

Semoga Bermanfaat


Keledai Versus Kuda

Pada suatu hari, seorang pemuda membeli seekor kuda putih di pasar hewan. Secara fisik kuda itu mendekati sempurna baik dari warna bulu nan indah maupun dari kaki-kaki yang kuat.

Dengan sukacita pemuda itu menunggang kuda tersebut dengan bangga, ia yakin bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menandingi kecepatan kudanya itu.

Namun di tengah jalan, terdapat seorang laki-laki separuh baya menunggang keledai. Lelaki itu menantang pemuda dengan kuda untuk berlomba. Barangsiapa dapat mencapai desa yang ditentukan maka akan mendapatkan kuda atau keledai tunggangan dari lawannya.

Tentu saja pemuda itu dengan senang hati menerima tantangan tersebut. Dalam perkiraannya pasti kuda itu akan dapat mengalahkan dengan mudah keledai lelaki separuh baya itu.
Pertandingan dimulai, awalnya pemuda dengan kuda putih berlari meninggalkan keledai dan lalaki separuh baya jauh di belakang. Namun kondisi ini tidak berjalan lama, dengan pelan namun pasti keledai dapat menyusul kuda yang ditunggangi pemuda. Ternyata lelaki separuh baya memberikan wortel tepat di depan muka dari keledai tersebut sehingga keledai dengan cepat mengejar wortel itu. Keledai secara tidak sadar dapat berlari cepat karena mengejar wortel yang tidak pernah ia dapatkan.

Melihat hal tersebut, pemuda kemudian melakukan hal yang sama dengan lelaki separuh baya kepada keledainya. Diberikannya kuda tersebut iming-iming wortel, namun kuda tidak memberikan reaksi apa-apa dan tetap berlari dengan santai. Pemuda itu bingung dan dengan kesal dipukulnya pantat kuda dengan keras. Kuda kaget dengan pukulan itu dan kemudian berlari dengan kencang menyusul keledai yang ada di depannya.

Ternyata pemuda sadar jika kuda dipukul maka akan berlari dengan cepat. Oleh karenanya ia memukul kuda itu dengan keras, harapannya bahwa kuda akan berlari kencang hingga sampai tempat tujuan. Namun karena kerasnya memukul kuda, kuda marah dan menendang pemuda itu hingga terlontar jauh dan akhirnya pemuda itu kalah karena tidak bisa menyelesaikan perlombaan.

Insigt dari cerita ini :

1. Jangan menjadi Kuda
Terkadang kita secara tidak sadar berada dalam posisi Kuda ataupun Keledai. Seperti Kuda
yang jika tidak " dipukul " maka tidak mengerjakan suatu yang menjadi kewajiban kita. Atasan
selalu harus mengawasi, menegur maupun memberikan peringatan agar kinerja kita menjadi
lebih baik.
2. Jangan Menjadi Keledai
Sebaliknya seperti Keledai artinya dalam melakukan suatu kewajiban harus diiming-iming oleh
imbalan, rewards yang kita anggap sebagai suatu yang harus diraih namun jika tidak ada
reward atau imbalan maka kewajiban kita lakukan dengan sekehendak hati.
3. Jadilah Manusia
Jadi jika merasa kita sebagai manusia, lakukanlah segala kewajiban selayaknya manusia dan
bukan sebagai Kuda maupun Keledai. Lakukan dengan ikhlas tanpa pamrih dan kita lihat apa
yang akan terjadi selanjutnya

Semoga Bermanfaat ......